Sabtu, 25 Juni 2011

Mengenang Pergolakan Permesta di Minahasa

P R O K L A M A S I
Demi keutuhan Republik Indonesia, serta demi keselamatan dan kesejahteraan Rakyat Indonesia pada umumnya, dan Rakyat Daerah di Indonesia Bagian Timur pada khususnya, maka dengan ini kami nyatakan seluruh wilayah Teritorial VII dalam keadaan darurat perang serta berlakunya pemerintahan militer sesuai dengan pasal 129 Undang - Undang Dasar Sementara, dan Peraturan Pemerintah No. 33 tahun 1948 dari Republik Indonesia.
Segala peralihan dan penyesuaiannya dilakukan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya dalam arti tidak, ulangi tidak melepaskan diri dari Republik Indonesia.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa beserta kita dan menurunkan berkat dan hidayatNya atas umatNya.-


Makassar, 2 M a r e t 1957.-
Panglima Tentara & Territorial VII


Letkol. H.N.V. Sumual


Nrp. 15958




Demikian proklamasi Ventje Sumual, penguasa militer di Indonesia Timur, tanggal 2 Maret 1957 dini hari. Pembacaan proklamasi ini disusul dengan pembacaan Piagam Perjuangan Semesta oleh Letkol Saleh Lahade. Pada tahap selanjutnya gerakan ini lebih dikenal dengan gerakan Permesta. Permesta yang diprakarsai oleh pihak militer Indonesia Timur ini kemudian mendapat sambutan antusias dari masyarakat karena program-program yang dijalankannya sesuai dengan tuntutan rakyat daerah pada saat itu. Daerah komando militer dari TT-VII/Wirabuana saat itu meliputi seluruh Indonesia bagian Timur, yang mencakup Propinsi Sulawesi, Propinsi Maluku, Propinsi Sunda Kecil dan Propinsi Papua Barat yang saat itu masih dikuasai Belanda. Pada tanggal 20 Maret 1957 Letkol Ventje Sumual mengumumkan pembagian wilayah TT-VII/ Wirabuana dari 4 provinsi menjadi 6 provinsi, dengan dua provinsi yang dibagi menjadi dua yaitu Provinsi Sulawesi (Propinsi Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan) dan Sunda Kecil (Propinsi Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur).

Negara Indonesia saat itu memang menghadapi masalah utama post war, yaitu kesejahteraan rakyat Indonesia. Pihak militer merasakan bahwa prajuritnya tidak sejahtera, tinggal di barak-barak peninggalan Belanda yang telah penuh bocor dan tidak bersekat antara satu keluarga prajurit dengan prajurit lain sehingga timbul masalah privasi, peralatan militer yang sebagian besar tidak optimal fungsinya, masalah perebutan Irian Barat dari tangan Belanda, masalah intern Angkatan Darat, dan sebagainya. Di pihak lain, masyarakat sipil juga menghadapi masalah kesejahteraan sosial.


Pembangunan di Indonesia Timur dianggap sebelah mata oleh Pusat (Jakarta). Jalan-jalan penuh lubang dan tidak beraspal, infrastruktur yang tidak memadai, hanya meminjam bangunan rakyat, dan lain sebagainya.

Salah satu permasalahan utama yang dihadapi para pemerintahan daerah daerah adalah sebagai berikut: Biasanya anggaran pembelanjaan daerah tahunan dibuat dan dikirim pada setiap akhir tahun untuk tahun-anggaran baru. Tetapi anggaran tersebut setelah diteliti di Pusat akan mengalami potongan-potongan. Otorisasinya baru akan diterima pada pertengahan tahun-anggaran yang berjalan dan biasanya baru dapat diuangkan pada akhir September atau awal Oktober dalam tahun-anggaran berjalan. Karena itu dana yang ada jelas tidak mungkin habis digunakan pada akhir tahun-anggaran, padahal pada awal tahun-anggaran baru kelebihan itu harus disetor kembali. Kemudian kembali akan diadakan pengajuan anggaran baru, pemotongan, otorisasi dan keterlambatan, dan akhirnya mengembalikan dana lebih. Demikian dari tahun ke tahun, sehingga daerah secara nyata tidak pernah mendapat kesempatan untuk menikmati anggarannya secara penuh. Akibatnya pembangunan tidak ada yang dapat dikerjakan, daerah tetap terkebelakang dan rakyat tetap miskin dan tidak akan mampu meningkatkan taraf hidupnya. Keadaan yang sudah bertahun-tahun menimpa daerah ini telah menjadikan rakyatnya kecewa sehingga menjadi calon-calon pengikut komunis (PKI) atau Darul Islam (barisan sakit hati) yang potensial.

Sulawesi Utaralah yang solider terhadap Permesta. Daerah Sulawesi Selatan tidak lagi antusias dengan Permesta sehingga Sulsel tidak dapat diharapkan lagi untuk menjadi basis Permesta. Pada bulan Juni 1957, setelah TT-VII/Wirabuana dibubarkan dan dipecah menjadi empat KODAM (Merdeka, Hasanuddin, Pattimura dan Udayana), maka golongan yang pro-Permesta yang pada umumnya anak Manado akhirnya membangun kekuatan di Manado untuk tujuan pembangunan daerah.

Salah satu proyek penting Permesta di daerah ini adalah pendirian Universitas Permesta tanggal 23 September 1957 di Sario Manado. Memang di daerah ini belum memiliki universitas milik pemerintah.

Tanggal 30 September 1957 Presiden Soekarno mengadakan kunjungan resmi di Universitas Permesta di Sario Manado kemudian berkunjung ke Tomohon untuk menghadiri perayaan HUT Sinode GMIM ke-23 di Gereja Sion Tomohon. Di gereja Sion ia berpidato: "...bahwa Ketuhanan itulah sendi utama Republik Indonesia. Demikian Tuhan adalah pegangan kita," serta ayat dalam Injil Yohanes 1:1 (kelak, ucapan ini disitir oleh Permesta untuk menyerang paham komunis yang diperkenalkan oleh Soekarno sendiri dalam wujud pengesahan PKI). Setelah itu ia menghadiri jamuan makan di Kantor Sinode GMIM (kini berdiri Akper Bethesda). Kunjungan ini turut dihadiri oleh Duta Besar Amerika Serikat, Mesir, Pakistan, Swedia serta tiga orang menteri RI.

Situasi dan kondisi saat itu sedang memanas, antara Pusat dengan Permesta, sehingga peristiwa kedatangan Soekarno ini mendapatkan keuntungan tersendiri bagi Permesta, dan menambah dukungan moril bagi Permesta, menumbuhkan keyakinan pada masyarakat umum bahwa gerakan Permesta adalah sah-sah saja oleh pemerintah pusat.

Tanggal 17 Februari 1958, dua hari setelah PRRI di Sumatera memutuskan hubungan dengan Pemerintah Pusat di Jakarta, Permesta mengadakan rapat raksasa di lapangan Sario Manado dimana Letkol D.J. Somba mengumumkan pernyataan yang sangat pendek: “Rakyat Sulutteng termasuk militer solider pada keputusan PRRI dan memutuskan hubungan dengan pemerintah RI.”

Konsekuensinya adalah pemberontakan bersenjata. Ini dibuktikan tanggal 22 Januari dengan pernyataan perang bersenjata dari Pemerintah Pusat yang menjatuhkan beberapa bom di Manado. Mulai saat itu berlakulah slogan “civis pacem para bellum, yang mencintai damai haruslah bersedia perang”. Pihak Permesta berkata, “Lebih terhormat bangkit dan melawan, daripada mati di ujung peluru bangsa sendiri,” atau “Torang mungkin kalah di pertempuran, mar bukang di peperangan.”

Dukungan rakyat terhadap Permesta sendiri begitu besar hingga disebutkan “Samua penduduk, binatang, deng pohon, deng rumput pun samua pro Permesta!”

Pada saat Tentara Pusat mengadakan operasi merebut semua daerah Permesta serta menjatuhkan beberapa selebaran, maka Permesta membalasnya dengan mengumumkan semboyan penggugah “Hanya kalau kering Danau Tondano, rata Gunung Lokon, Klabat dan Soputan, baru Tentara Djuanda dapat menginjakkan kakinya di Minahasa.”

Permesta kemudian membangun kekuatan militer dalam satuan divisi yang bernaung di bawah kendali Kabinet Revolusioner PRRI pimpinan Mr. Sjafruddin Prawiranegara, tandingan dari Kabinet Karya pimpinan Djuanda. Divisi Permesta sendiri merupakan bagian dari Angkatan Perang Revolusioner (APREV) PRRI dengan Panglima Besar Mayjen Revolusioner Alex E. Kawilarang, Kepala Staf Angkatan Darat Revolusioner (ADREV) dipimpinan panglimanya Brigjen Revolusioner H.N. Ventje Sumual, serta Angkatan Udara Revolusioner (AUREV) dipimpin Komodor AUREV Petit Muharto Kartodirjo (asal Jawa). Pemerintahan sipil Permesta dipimpin oleh Wakil Perdana Menteri (Waperdam) PRRI Kolonel Joop Warouw.
Pada tanggal 12 April 1958, tiga pesawat pertama yang diperbantukan dalam pertahanan udara PRRI (dalam AUREV) berupa pesawat B-26 Bomber diberangkatkan dari US Clarck Airfield di Filipina menujuMapanget. Kemudian pemboman AUREV pertama kali dilakukan di Lapangan Mandai Makassar pukul 5:35-5:51 pagi hari. Sebetulnya pengeboman di LU Mandai Makassar sebenarnya akan menggunakan 2 pesawat pembom B-26. Namun pesawat yang satunya, yang dikendalikan oleh penerbang berkebangsaan AS jatuh setelah mengadakan take off dari LU Mapanget. Peristiwa ini mengakibatkan gugurnya 2 pilot AS, dan seorang serdadu telegrafis Permesta. Pengeboman selanjutnya dilakukan di Balikpapan (4x yaitu 16 April, 22 April, 28 April dan 19 Mei), Ambon dengan lapangan udara Pattimuranya (7x, mulai 27 April, 28 April, 1 Mei, 8 Mei, 15 Mei, 18 Mei), Ternate (5x), Morotai (3x), Bitung, pelabuhan Palu-Donggala-Balikpapan (16 dan 20 April), Gorontalo, dan lain-lain.

Untuk melumpuhkan Jakarta, Permesta mengadakan “Operasi Djakarta II" di bawah komando Panglima KDP II/Minahasa Letkol D.J. Somba. Rencana ofensif secara bertahap terhadap ibukota RI Jakarta ini dibekali dengan persediaan senjata dan amunisi untuk satu divisi dan tenaga-tenaga prajurit yang cukup militan dalam latihan, serta air-cover (perlindungan udara) dari pesawat AUREV. Rencana Operasi Djakarta II itu adalah sebagai berikut: Pertama, merebut kembali daerah Palu/Donggala yang telah dikuasai Tentara pusat, dari sana menyerang & menduduki Balikpapan dengan kekuatan 1 resimen RTP, sasaran kedua adalah Bali, sasaran ketiga adalah Pontianak, sasaran terakhir adalah menyeberang ke Jawa untuk selanjutnya menyerbu Jakarta. Operasi ini bertujuan untuk menekan Pemerintah Pusat di Jakarta agar berunding dengan PRRI. Namun operasi ini gagal akibat tanggal 15 Mei 1958 sejumlah besar pesawat AUREV dihancurkan AURI di Mapanget, Tasuka/Kalawiran serta tertangkapnya Allan Pope, agen CIA yang membantu Permesta sebagai pilot AUREV.
Tanggal 16 Juni 1958 dilakukan pendaratan pertama kali Tentara Pusat secara besar-besaran di pantai Kema Minahasa dengan nama Operasi Merdeka di bawah pimpinan Letkol. Roekmito Hendraningrat berkekuatan 4.000 tentara gabungan APRI/TNI. Tanggal 26 Juni kota Manado jatuh ke tangan Tentara Pusat. Tanggal 21 Juli Tondano jatuh menyusul kejatuhan Tomohon, pusat kekuatan Permesta saat itu, pada tanggal 16 Agustus akibat pengkhianatan Mayor Mongdong. Dengan kejatuhan Tomohon ini, kota-kota kecil di selatan dengan mudah direbut Tentara Pusat. Memang Permesta sempat mengadakan serangan umum besar-besaran serentak di Minahasa, yang diberi nama "Operation Djakarta Special One" pada tanggal 17 Februari 1959, namun usaha ini kurang berhasil.

Perundingan-perundingan perdamaian antara Permesta dan Pemerintah RI diadakan secara terselubung. Broer Tumbelaka melakukan pendekatan dengan Permesta atas nama Pemerintah Pusat. Usaha ini berhasil sehingga pada 4 April 1961 diadakanlah upacara perdamaian Permesta dan Pemerintah Pusat di Malenos Baru – Amurang (saat itu masih berupa hutan jati). D.J. Somba selaku Komandan KDM-SUT prapergolakan bersenjata membacakan pernyataan bahwa Permesta “kembali ke pangkuan ibu pertiwi.” Pada tanggal 14 April 1961 diadakan upacara defile "Penyelesaian" secara resmi yang diadakan di Susupuan, yaitu perbatasan kota Tomohon dengan Desa Woloan.

Sebagai hasil penyelesaian Pemerintah Pusat di Jakarta dengan Alex Kawilarang dan D.J. Somba, diperkirakan 27.055 orang, 25.176 di antaranya anggota militer, serta 8.000 di antaranya bersenjata, mengakhiri pemberontakan mereka. Dari jumlah ini, diperkirakan 5.000 orang adalah bekas anggota TNI. Pada bulan Februari 1961, Yus Somba memperkirakan kekuatan total Permesta sekitar 43.000 orang, 5.000 di antaranya dari KDM-SUT, dan 9.000 bekas anggota KNIL (1.000 diantaranya sudah pensiun). Jumlah Pasukan Wanita Permesta (PWP) yang menyerahkan diri saat itu adalah 1.502 orang.

Perang Pergolakan Permesta ini menimbulkan duka bagi orang Minahasa. Dalam perang tahun 1958-1961, Pergolakan Permesta memakan sekitar 15.000 nyawa melayang. Selain itu ada 394 desa di seluruh Sulutteng musnah dibakar, puluhan ibukota kecamatan dan satu ibukota kabupaten (Kotamobagu) musnah dibakar. Namun, dalam tempo sebulan sesudah perdamaian, pengungsi mulai turun ke kampung memperbaiki rumahnya. Sebagai contoh, penduduk Kakaskasen langsung mendirikan 600 pondok, rumah, sekolah darurat dan balai pengobatan di antara puing-puing kampungnya.

Rakyat memang merupakan korban utama dari perang saudara ini. Ada 27.000 kepala keluarga atau seperempat dari total penduduk Minahasa yang kehilangan tempat tinggalnya akibat menyingkir ke pedalaman, kebun, sabuah, dan lain-lain.

Menurut keterangan KSAD A.H. Nasution, dalam perang melawan tentara Permesta banyak korban yang jatuh dari pihak TNI. Dikatakan bahwa rata-rata tiap hari jatuh 5 orang korban di pihak TNI, sehingga diperkirakan jumlah kerugian nyawa yang diderita Tentara Pusat sekitar 5.500 orang. Dalam catatan pemerintah, Peristiwa Permesta ini memakan korban 10.150 orang dari pihak RI tewas (2.499 prajurit, 956 anggota OPR atau hansip, 274 polisi dan 5.592 penduduk sipil). Sedangkan di pihak PRRI/Permesta, ada 22.174 yang tewas.


Sumber: 
Mengenang Pergolakan Permesta di Minahasa 

Asal Usul Suku dan Rumah Adat Minahasa

Rumah Adat Minahasa



Menurut fakta- fakta penyelidikan kebudayaan dunia dan benda- benda purbakala. Di tanah Minahasa sendiri kaum pendatang mempunyai ciri seperti: Kaum Kuritis (berambut keriting),Kaum Lawangirung (berhidung pesek) dan Kaum Malesung/ Minahasa yang menurunkan suku-suku :Tonsea, Tombulu, Tompakewa, Tolour, Bantenan (Pasan,Ratahan),Tonsawang, Bantik (sekitar tahun 1590).
Suku Minahasa atau Malesung mempunyai pertalian dengan suku bangsa Filipina dan Jepang, yang berakar pada bangsa Mongol didataran dekat Cina. Hal ini nyata tampak dalam bentuk fisik seperti mata, rambut, tulang paras, bentuk mata, dll.
-Tingkatan atau status social
Golongan Makasiow (pengatur ibadah yang disebut Walian/ Tonaas) hingga saat ini istilah yang dipakai adalah 2 X 9 ( 9 orang tonaas yang menempati posisi antara Sang penguasa dengan Surga dan Bumi, Baik tidak Baik, dan semua hal tentang keseimbangan Golongan Makatelu pitu (pengatur/ pemerintah dengan gelar Patu’an atau 3 X 7 Teterusan/ kepala desa dan pengawal desa disebut Waranei ( 7 orang pengatur/ pemerintah)
Golongan Makasiow Telu 9 x 9
Seiring waktu, jumlah penduduk bertambah, tempat tinggal mulai padat dan lahan terbatas, maka keturunan Toarlumimuut berpencar tumani (membuka lahan baru)untuk kelangsungan taranak mereka serta Golongan Pasiyowan Telu (rakyat).
Sejak awal bangsa Minahasa tiada pernah terbentuk kerajaan atau mengangkat seorang raja sebagai kepala pemerintahan
Kepala pemerintah adalah kepala keluarga yang gelarnya adalah Paedon Tu’a atau Patu’an yang sekarang kita kenal dengan sebutan Hukum Tua.
-Sistem kekerabatan suku minahasa (kota Manado)
Kota Manado secara hukum adat merupakan wilayah dari Tanah Minahasa, dimana masyarakatnya sebagian besar berasal dari Suku Minahasa yakni Sub Suku Tombulu, Tonsea, Tontemboan atau Tompakewa, Toulour, Tonsawang, Pasan atau Ratahan, Ponosakan, dan Bantik. Ada juga masyarakat pendatang dari luar negeri, seperti Bangsa Cina yang telah kawin mawin dengan orang Manado-Minahasa dan keturunannya disebut Cina Manado, Bangsa Portugis dan Spanyol yang keturunannya disebut Orang Borgo Manado, Bangsa Belanda yang keturunannya disebut Endo Manado serta Bangsa Arab, Jepang, dan India dimana perkawinan mereka bersifat endogam.Disamping itu, ada pula penduduk Kota Manado yang berasal dari Suku Sangihe Talaud, Bolaang Mongondouw, Gorontalo serta daerah lainnya dari seluruh Indonesia yang telah sekian lama menetap.
-Sistem mata pencaharian
Seperti perikanan darat dan laut, pertanian, peternakan, dan kerajinan. Namun rata-rata masyarakat Kota Manado mempunyai profesi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), Anggota TNI dan POLRI, Pengusaha dan Karyawan, Buruh, Sopir, Tukang, dan Pembantu.
-Sistem Kepercayaan
Masyarakat Kota Manado masih memiliki kepercayaan lama, yakni kepercayaan kepada dewa-dewa yang menghuni alam sekitar, seperti Opo Empung (Tuhan), Opo nenek moyang, Opo kerabat, mahluk-mahluk penghuni gunung, sungai, mata air, hutan, bawah tanah, pantai dan laut, hujan, dan mata amgin.
Selain itu ada juga kepercayaan yang berhubungan dengan mahluk halus lainnya, seperti mukur, pontianak, setang mangiung-ngiung, pok-pok, panunggu, jin, dan lulu.
-Perkampungan
Pola perkampungan dari tiap-tiap kelurahan di wilayah Kota Manado pada umumnya terletak diatas tanah dataran, baik dataran tinggi maupun dataran rendah secara berkelompok padat. Kelurahan yang satu dengan kelurahan yang lainnya sambung-menyambung menjadi satu kesatuan mengikuti jalan raya maupun memanjang mengikuti jalan-jalan kecil dan juga lorong-lorong.
-Letak & Orientasi
Luas Minahasa pada jaman ini adalah dari pantai likupang, Bitung sampai ke muara sungai Ranoyapo ke gunung Soputan, gunung Kawatak dan sungai Rumbia Wilayah setelah sungai Ranoyapo dan Poigar, Tonsawang, Ratahan, Ponosakan adalah termasuk wilayah kerajaan Bolaang Mongondow.
-Pengaruh system kekerabatan&kepercayaan pada rumah adat minahasa
Rumah tradisional Minahasa berbentuk rumah panggung atau rumah kolong.
Rumah adat Minahasa merupakan rumah panggung yang terdiri dari dua tangga didepan rumah. Menurut kepercayaan nenek moyang Minahasa peletakan tangga tersebut dimaksudkan apabila ada roh jahat yang mencoba untuk naik dari salah satu tangga maka roh jahat tersebut akan kembali turun di tangga yang sebelahnya.
-Konsep ruang dalam arsitektur tradisional
Bahan material yang dipergunakan umumnya adalah kayu dari jenis pohon yang diambil dari hutan, yaitu kayu besi, linggua, jenis kayu cempaka utan atau pohon wasian, jenis kayu nantu, dan kayu maumbi. Kayu besi digunakan untuk tiang, kayu cempaka untuk dinding dan lantai rumah, kayu nantu untuk rangka atap. Bagi masyarakat strata ekonomi rendah menggunakan bambu petung/ bulu jawa untuk tiang, rangka atap dan nibong untuk lantai rumah, untuk dinding dipakai bambu yang dipecah.
Arsitektur rumah tradisional Minahasa dapat dibagi dalam periode sebelum gempa bumi tahun 1845 dan periode pasca gempa bumi 1845-1945.
Karakteristik ruang dalam rumah, hanya terdapat satu ruang bangsal untuk semua kegiatan penghuninya. Pembatas territorial adalah dengan merentangkan rotan atau tali ijuk dan menggantungkan tikar. Orientasi rumah menghadap ke arah yang
ditentukan oleh Tonaas yang memperoleh petunjuk dari Empung Walian Wangko (Tuhan).
Karakteristik ruang dalam rumah masa 1845-1945 berbeda dengan sebe
lumnya, karena sudah terdapat beberapa kamar, seperti badan rumah terdepan berfungsi sebagai ruang tamu/ ruang setup emperan, ruang tengah/ pores difungsikan untuk menerima kerabat dekat, dan ruang tidur untuk orang tua dan anak perempuan, ruang tengah belakang tempat lumbung padi (sangkor). Ruang masak terpisah p
ada bangunan lainnya. Fungsi loteng/ soldor adalah sama dengan masa sebelumnya yang diperuntukkan menyimpan hasil panen (gambar 3 dan gambar 4).
Karakteristik konstruksinya:
Atap:
- rangka atapnya adalah gabungan bentuk pelana dan limas.
- Atapnya berupa konstruksi kayu/ bambu batangan yang diikat dengan tali ijuk pada usuk dari bambu.
- badan bangunan menggunakan konstruksi kayu dan sistem sambungan pen.
Tiang:
- kolong bangunan terdiri dari 16-18 tiang penyangga.
- ukuran ∅80-200 cm (ukuran dapat dipeluk oleh dua orang dewasa).
- Tinggi tiangnya 3-5 cm.
- Tiang tangga terbuat dari akar pohon besar atau bambu.
Tiang (thn 1845-1945)
- tiang penyanggah berukuran lebih kecil dan lebih pendek, , yaitu sebesar 30/30 cm atau 40/40 cm.
- Tinggi 1,5-2,5 meter
Perubahan Fisik Rumah Tradisional Minahasa
Perubahan fisik rumah tradisional Minahasa nampak pada perubahan konstruksi dan material, sebagai berikut:
1) Perubahan konstruksi atap kasau di Desa Tonsealama menjadi konstruksi atap peran
dengan kuda kuda berdiri, perubahan dilakukan setelah 30-40 tahun pembangunan ( pada
waktu daya tahan kayu menurun sesuai dengan umur konstruksi kayu).
Di Desa Rurukan, masyarakat tetap mempertahankan konstruksi atap rumahnya, baik dalam bentuk konstruksi atap kasau ataupun atap peran.
Rangka badan rumah tetap, tetapi perubahan nampak pada pengisi konstruksi dinding dan konstruksi jendela. Perubahan konstruksi dinding terjadi setelah bangunan rumah berumur 70 tahun. Material konstruksi dinding terpasang horisontal dirubah dengan memasang secara vertikal
(khususnya di Desa Tonsealama). Konstruksi jendela 2 sayap diubah menjadi jendela kaca nako/ jalusi (di Desa Tonsealama dan Desa Rurukan).
material konstruksi atap rumbia diganti dengan atap seng. Perubahan material konstruksi atap di Desa Tonsealama, dilakukan sejak tahun 1920 sampai saat ini, dan di Desa Rurukan perubahan dilakukan sejak 1932 sampai saat ini. Sesuai penuturan penghuni rumah, umur atap rumbia adalah 10-15 tahun, dan saat ini material atap rumbia sulit diperoleh dan kualitasnya menurun karena masa pakainya hanya 1-3 tahun.

Makanan Khas Orang Manado/Minahasa

Kota Manado khususnya Masyarakat Minahasa memiliki beragam macam makanan yang sebagian masih asing bagi orang luar Kota Manado, bahkan ada yang sama sekali tidak bisa dicicipi oleh orang luar Kota Manado/Minahasa. Beberapa makanan Khas Manado/Minahasa yang sering disajikan dalam acara-acara syukuran atau acara tertentu dan juga bisa di jumpai apabila anda berkunjung ke restoran-restoran makanan khas Manado  dan atau apabila Anda berkunjung langsung ke  Manado/Minahasa.


berikut sebagian dari Daftar Makanan Manado/Minahasa
* Ayam garo rica
* Ayam isi di buluh
* Ayam tuturuga
* Ayam woku balanga
* Babi Garo ( daging babi)
* Babi Rica (daging babi)
* Babi Sayur Leilem
* Babi Tore (babi digoreng/panggang)
* Babi Winongos (Babi Woku Kombi)
* RW=Rintek Wuuk (Daging Anjing)
* Brenebon
* Cakalang fufu
* Ikan bakar dabu-dabu lilang
* Ikan mas woku
* Ikan mujair woku
* Ikan Nike
* Kuah Asam
* Pampis
* Pangi isi di buluh
* Posana
* Perkedel jagung
* Perkedel nike
* Rica roa
* Rica rodo
* RW (daging anjing)
* Saut
* Sayur daun pepaya
* Sayur Ganemo
* Sayur Leilem
* Sayur paku isi di buluh
* Sayur petsai
* Sayur tumis buncis
* Sayur tumis kangkong
* Telor ikan cakalang woku
* Tikus bumbu RW
* Tinorangsak (daging babi)
* Tinutuan (Bubur Manado)

Kue-kue
* Ambal
* Apang
* Apang coe
* Bagea katu
* Balapis
* Ba pia (temo/kacang)
* Biapong (ba/temo/unti)
* Biji-biji (janewer)
* Binyolos
* Bobengka
* Bobengka Kakas
* Brot goreng
* Brudel
* Cucur
* Gula tare'
* Halua kacang
* Halua kanari
* Kacang goyang
* Klappertaart
* Kolombeng
* Kopi-kopi
* Koyabu
* Kue Kuk
* Kue Susen
* Kukis daong
* Kukis lopi
* Lalampa
* Lampu-lampu
* Nasi jaha
* Onde onde
* Palabutung
* Panada
* Pia Ba (daging babi)
* Pisang kukus
* Spetbuff
* Waji

Minuman

* Cap Tikus (minuman keras berkadar alkohol tinggi)
* Pinaraci
* Saguer

Hidangan penutup
* Es Cukur Kacang
* Es Palubutung
* Gohu
* Es Kacang Merah


Midal/Tinutuan


Cucur vs Nasi Jaha

Gohu

Panada

RW

Lalampa

Tinutuan par Saguer

Balapis, Panada par Saguer Manis

Nasi Bungkus

Waji

Nasi Bungkus par Ikang Sous

Brenebon




Malele ewek memang hemmmm
^_^

Alkitab Bahasa Tontemboan







Bagian dari Amurang Tempo Doeloe

Pengenalan tanah Manado dan Minahasa oleh bangsa-bangsa Barat diawali dengan kedatangan musafir Spanyol pada 1532. Bermula sejak bandar Malaka didatangi kapal-kapal Portugis pimpinan D'Abulquergue pada 1511 membuka jalur laut menuju gugusan kepulauan Maluku. Jalur ini kemudian baru dimapankan pada 1521. Sebelumnya kapal-kapal Spanyol pimpinan Ferdinand Magelhaens merintis pelayaran dalam usaha tujuan serupa yang dilakukan Portugis. Bedanya jalur ini dilakukan dari ujung benua Amerika-Selatan melintasi samudera Pasifik dan mendarat di kepulauan Sangir Talaud di laut Sulawesi .

Sebelum menguasai kepulauan Filipina pada 1543, Spanyol menjadikan pulau Manado Tua sebagai tempat persinggahan untuk memperoleh air tawar. Dari pulau tersebut kapal-kapal Spanyol memasuki daratan Sulawesi-Utara melalui sungai Tondano.

Hubungan musafir Spanyol dengan penduduk pedalaman terjalin melalui barter ekonomi bermula di Uwuran (sekarang kota Amurang) ditepi sungai Rano I Apo. Perdagangan barter berupa beras, damar, madu dan hasil hutan lainnya dengan ikan dan garam.
Gudang Kofi

Manado dan Minahasa menjadi penting bagi Spanyol, karena kesuburan tanahnya dan digunakan Spanyol untuk penanaman kofi yang berasal dari Amerika-Selatan untuk dipasarkan ke daratan Cina. Untuk itu di-bangun Manado sebagai menjadi pusat niaga bagi pedagang Cina yang memasarkan kofi kedaratan Cina. Nama Manado dicantumkan dalam peta dunia oleh ahli peta dunia, Nicolas_Desliens‚ pada 1541. Manado juga menjadi daya tarik masyarakat Cina oleh kofi sebagai komoditi ekspor masyarakat pedalaman Manado dan Minahasa. Para pedagang Cina merintis pengembangan gudang kofi (kini seputar Pasar 45) yang kemudian menjadi daerah pecinan dan pemukiman. Para pendatang dari daratan Cina berbaur dan berasimilasi dengan masyarakat pedalaman hingga terbentuk masyarakat pluralistik di Manado dan Minahasa bersama turunan Spanyol, Portugis dan Belanda.

Kemunculan nama Manado di Sulawesi Utara dengan berbagai kegiatan niaga yang dilakukan Spanyol menjadi daya tarik Portugis sejak memapankan posisinya di Ternate . Untuk itu Portugis melakukan pendekatan mengirim misi Katholik ke tanah Manado dan Minahasa pada 1563 dan mengembangkan agama dan pendidikan Katholik.
Lomba Adu Pengaruh di Laut Sulawesi

Sebenarnya kedatangan Portugis ke Manado dan Minahasa adalah kehendak kesultanan Ternate yang waktu itu berada dibawah kepemimpinan Sultan Hairun yang mengklaim bahwa Sulawesi-Utara sebagai fazal ekonomi kesultanan yang diganggu Spanyol. Sultan Hairun juga menggunakan kekuatan Portugis untuk "menjinakkan" masyarakat "Alifuru" yang tidak ingin tunduk kepada kepemimpinan kesultanan Ternate.

Kedatangan para musafir Portugis diterima dengan tangan terbuka oleh penduduk setempat, tetapi tidak disenangi Spanyol, karena menjadi saingan. Dilain pihak penduduk setempat tidak menyenangi Spanyol karena sering membuat onar, apalagi merusak sentra-sentra budaya masyarakat pedalaman. Persaingan Spanyol dengan Portugis memuncak hingga Manado dan Minahasa menjadi ajang konflik. Pertikaian berakhir dan Spanyol memperoleh konsesi di Sulawesi Utara ketika Spanyol dan Port ugis menjadi kesatuan dibawah kepemimpinan raja Spanyol pada 1580.
Penetrasi Budaya dan Agama

Manado dan Minahasa yang semula merupakan tempat persinggahan, oleh Spanyol menjadi pangkalan penting guna menguasai Filipina dan dipusatkan di Manado dan Amurang. Juga dijadikan sebagai pusat logistik bahan-bahan pangan guna menunjang personal mereka di kepulauan Cebu (Filipina) dan Maluku. Hal ini terjadi setelah gudang produksi beras daerah Kali ditepi Danau Tonsawang milik masyarakat "Alifuru" dikuasai Spanyol. Sedangkan gudang beras di Tondano diperolehnya dengan jalan damai. Sebab para walak yang memimpin Tondano dikenal sangat ketat dan memberi perlawanan sengit terhadap penetrasi luar yang merugikan wilayahnya.

Spanyol tidak ingin mengambil risiko untuk berkonfrontasi dengan Tondano agar tidak membahayakan eksistensinya di Laut Sulawesi guna merebut Filipina dibawah kekuasaannya. Untuk itu Spanyol melakukan pendekatan atas dasar persamaan hak dengan para pemuka masyarakat penghuni sekitar tepi danau Tondano.

Persaingan Adi-Kuasa Eropa dikawasan Laut Sulawesi hingga perairan Laut Maluku Utara untuk menguasai kepulauan Maluku penghasil rempah-rempah mulai berkembang sejak awal abad ke-17. Persaingan itu telah mengganggu ketenteraman masyarakat Sulawesi-Utara dari lomba pengaruh yang bermula antara Spanyol dengan Portugis. Posisi Manado dan Minahasa menonjol sebagai kantong ekonomi terutama sebagai produsen beras oleh berbagai kerajaan diseputar Laut Sulawesi dan Laut Ternate.

Pedalaman Manado dan Minahasa yang kaya sebagai lumbung beras yang dimiliki masyarakat "Alifuru" diseputar danau Tondano tidak tersentuh oleh penetrasi luar.

Spanyol dan Portugis secara bertahap memperluas pengaruh budaya Hispanik dan menyebarkan agama Katolik di pedalaman tanah Manado dan Minahasa hingga memungkinkan baginya menguasai pedalaman Sulawesi-Utara.

Penetrasi diplomasi agama dan budaya hingga Spanyol berhasil membentuk dan menguasai jaringan niaga bagi penyaluran hasil produksi komoditi pedalaman Manado dan Minahasa. Akibatnya tata-niaga penduduk setempat mengalami rasa ketergantungan dari Spanyol. Pendekatan diplomasi budaya dan agama yang berlanjut dengan menguasai tata-niaga perdagangan berkembang menjadi kolonialisme hingga Spanyol tidak disenangi penduduk setempat karena menimbulkan berbagai akibat buruk oleh dominasi ekonomi dan kehidupan sosial dan selama hampir satu abad.
Pertentangan Eropa Selatan- Eropa Utara di Laut Sulawesi

Keadaan berubah di abad ke-17 ketika Belanda dan Inggris mulai memperlihatkan supremasi di Asia-Tenggara dan perairan Maluku. Sejak itupun Sulawesi Utara menjadi penting bagi VOC yang berkedudukan di Batavia dan ingin memperluas pengaruh hingga Maluku Utara. Sebab kawasan ini sangat strategis untuk mengawasi Laut Sulawesi terhadap ancaman dari utara. Peranan kota Manado sejak pendudukan Spanyol mulai menonjol sebagai pusat logistik bahan pangan, terutama komoditi beras yang dihasilkan pedalaman Manado dan Minahasa. Kapal-kapal VOC untuk pertama kali memasuki bandar Manado pada 1607 untuk membeli beras dan bahan pangan lainnya yang diperlukan sebagai bekal bagi perjalanan menuju daratan Cina. Namun tidak memperoleh hasil karena larangan Spanyol yang telah menguasai niaga Sulawesi-Utara.

Pada 1607 Gubernur Cornelis Mattelief dari Batavia mengutus Jan Lodewijk Rossingeyn menjalin hubungan niaga, namun ditolak oleh Spanyol. Usaha pendekatan dilanjutkan pada 1610 ketika pimpinan VOC di Batavia mengutus Kapten Verhoeff yang juga gagal. Verhoeff memberi laporan lengkap mengenai potensi yang dimiliki Manado dan Minahasa hingga menarik minat Batavia untuk menguasai Sulawesi Utara bagi kepentingan keamanan VOC di Maluku.

Pihak VOC mulai melakukan konsolidasi kekuatan untuk merebut Laut Sulawesi dari Spanyol dipusatkan di Ambon . Pertempuran singkat Spanyol-Belanda berkecamuk pada bulan Agustus 1614 dikepulauan Siau dengan kemenangan Belanda. Setelah kekalahan di Siau, Spanyol memusatkan kekuatannya di Manado . Untuk menghadapi serbuan Belanda, dibangun membangun sebuah benteng dipesisir kota itu yang berhadapan dengan pulau Manado Tua.

Kekalahan di Siau menurunkan citra Spanyol di kalangan penduduk sekitar Laut Sulawesi hingga memperlemah posisinya di Maluku-Utara. Tetapi menguntungkan posisi VOC memperluas pengaruh di Maluku-Utara dengan Kesultanan Ternate. Kemenangan gemilang dimungkinkan karena VOC sebelumnya menjalin hubungan persahabatan dengan para pemuka kesultanan pada 1607 yang dendam terhadap Spanyol. Hal ini terjadi karena Spanyol menangkap Sultan Sahid Berkat dan diasingkan ke Manila . Pihak kesultanan Ternate mendekati Belanda sebagai pengimbang menghadapi kekuatan Spanyol. Jaminan keamanan dari VOC diperoleh Ternate ketika putera Sahid, Sultan Modafar diangkat menduduki singgasana kepemimpinan pada 1610 tanpa gangguan Spanyol.
Diplomasi Manado dan Minahasa

Kehadiran Belanda dan Inggris sebagai Adi-Kuasa di perairan Maluku memberi angin bagi para walak tanah Manado dan Minahasa untuk mengusir Spanyol dari Manado dan Minahasa dengan melakukan pendekatan kepada pihak Belanda yang telah menguasai Ternate setelah berhasil menyingkirkan kekuatan Portugis diperairan Maluku. Pendekatan terjadi ketika tiga kepala walak masing-masing: Supit, Paat‚ dan Lontoh‚ melakukan misi diplomasi dan berhasil menemui perwakilan VOC di Ternate pada 1630. Sebelum memerangi Spanyol, pihak VOC mendekati Inggris untuk tidak mencampuri. Karena Inggris juga memiliki pengaruh dibeberapa kepulauan Maluku dan hubungan antara Belanda dengan Inggris cukup akrab karena sama-sama memusuhi Spanyol dan Portugis saling berlomba melakukan perluasan pengaruh di kawasan Asia-Pasifik.

Inggris sepakat membiarkan Belanda mengusir Spanyol dari Sulawesi-Utara terutama dari tanah Manado dan Minahasa. Pada awal abad ke-17 Inggris dan Belanda saling bahu membahu melakukan pengembangan usaha menuju Asia-Tenggara sebagai hasil solidaritas mengusir penjajahan Spanyol dari Eropa Utara. Pengembangan East India Company yang didirikan oleh Inggris tidak beda dengan VOC. Perluasan persekutuan dagang Belanda dan Inggris sempat dihambat oleh Spanyol dan Portugis yang merupakan saingan. Namun kedua negeri Hispanik ini tidak berdaya membendung kekuatan armada laut asal Eropa-Utara ini, hingga kehilangan pengaruh di Maluku. Tetapi jalinan hubungan akrab Belanda-Inggris tidak abadi dan berakhir dengan konfrontasi akibat penyakit monopoli menguasai rempah-rempah. Persaingan serupa juga dialami antara Spanyol dengan Portugis hingga sejak abad ke-17 kawasan Asia-Tenggara menjadi lomba konflik para Adi-Kuasa asal Eropa.

Usaha para walak membawa hasil memupuskan kekuasaan Spanyol di tanah Manado dan Minahasa. Spanyol kehilangan dominasi terhadap Laut Sulawesi antara penguasa Spanyol dengan Belanda di Eropa melalui Perjanjian Munster ‚ pada tahun 1648.
Sengketa Belanda-Spanyol di Manado dan Minahasa

Pengaruh VOC di Sulawesi Utara tidak disenangi Spanyol. Sebab Spanyol telah menanamkan modal dengan pengembangan berbagai komoditi pertanian ekspor seperti kofi, pisang dan kopra di Sulawesi -Utara. Komoditi ini merupakan potensi niaga dengan Asia-Timur, terutama daratan Cina. Untuk itu dikirim Bartholomeus de Soisa dari Filipina mempertahankan posisi Sulawesi-Utara terutama tempat penghuni masyarakat Manado dan Minahasa. Spanyol menduduki daerah Uwuran dan beberapa tempat dipesisir pantai pada 1651 dengan bantuan prajurit asal Makassar . Karena yang terakhir ini mengklaim Sulawesi-Utara sebagai bagian dari wilayah kesultanan Makassar . Pendudukan ini menimbulkan reaksi Belanda di Ternate. Dibawah pimpinan Simon Kos, pada akhir 1655 kekuatan Belanda mendarat di muara sungai dan langsung membangun benteng.

Pembangunan Benteng ‘De_Nederlandsche_Vastigheit‚' dari kayu-kayu balok sempat menjadi sengketa sengit antara Spanyol dengan Belanda. Kos berhasil meyakinkan pemerintahannya di Batavia bahwa pembangunan benteng sangat penting untuk mempertahankan posisi Belanda di Laut Sulawesi . Dengan menguasai Laut Sulawesi akan mengamankan posisi Belanda di Maluku dari Spanyol.

Setelah memperoleh dukungan sepenuhnya dari Batavia, Kos berlayar menuju Manado disertai dua kapal perang Belanda, Molucco dan Diamant pada awal 1661 dari Ternate. Kekuatan ini mengalahkan Spanyol dan Makassar hingga di Manado hingga Amurang pada bulan Februari 1661. Belanda memapankan pengaruhnya di Sulawesi -Utara dan merubah benteng semula dengan bangunan permanen dari beton. Benteng ini memperoleh nama baru, ‘Ford Amsterdam‚' dan diresmikan oleh Gubernur VOC dari Ternate , [1]Cornelis Francx‚ pada 14 Juli 1673 (Benteng terletak dikota Manado dibongkar oleh Walikota Manado pada 1949 - 1950). Sejak saat itu Spanyol memusatkan koloninya di Filipina sebagai basis kepentingan ekonomi di Asia -Timur. Kolonialisme Spanyol di Filipina berakhir dan diserahkan Amerika Serikat pada 1896 akibat kalah dalam perang AS-Spanyol pantai Barat Amerika-Utara.

Diplomasi para walak mendekati Belanda berhasil mengusir Spanyol dari Manado dan Minahasa. Namun konsekwensi yang harus dialami adalah rintisan jalur niaga laut di Pasifik hasil rintisan Spanyol sejak �abad ke-17 terhenti dan mempengaruhi perekonomian Sulawesi Utara. Sebab jalur niaga ini sangat bermanfaat bagi penyebaran komoditi eskpor ke Pasifik. Sejak itupun pelabuhan Manado menjadi sepi dan tidak berkembang yang turut mempe ngaruhi pengembangan kawasan Indonesia bagian Timur hingga Pasifik Barat Daya. Dilain pihak, pelabuhan Manado hanya menjadi persinggahan jalur niaga dari Selatan (berpusat di Surabaya , Tanjung Priok yang dibangun oleh Belanda sejak abad ke-XVIII) ke Asia-Timur melalui lintasan Selat Makassar. Itupun hanya digunakan musiman saat laut Cina Selatan tidak di landa gelombang ganas bagi kapal-kapal. Sedangkan semua jalur niaga Asia-Timur dipusatkan melalui Laut Cina Selatan, Selat Malaka, Samudera Hindia, Tanjung Harapan Atlantik-Utara yang merupakan pusat perdagangan dunia.

Sebagai akibatnya kegiatan hubungan ekonomi diseputar Laut Sulawesi secara langsung dengan dunia luar praktis terlantar. Karena penyaluran semua komoditi diseluruh gugusan nusantara melulu diatur oleh Batavia yang mengendalikan semua jaringan tata-niaga dibawah kebijakan satu pintu. Penekanan ini membawa derita berkepanjangan bagi kegiatan usaha penduduk pedalaman Manado dan Minahasa.

Pergeseran pengaruh kekuasaan dari Spanyol kepada Belanda telah merubah sistem tata-niaga dimana komoditi Sulawesi-Utara tidak dapat berhubungan langsung dengan berbagai pasaran dipaparan Pasifik. Jaringan niaga Laut Sulawesi di Asia-Timur dan rintisan jalur niaga Pasifik yang menghubungkan kawasan ini dengan daratan benua Amerika oleh Spanyol praktis tertutup. Semua komiditi ekspor ekonomi penduduk Sulawesi-Utara dikendalikan melulu dari Batavia diciptakan sejak zaman VOC dilanjutkan oleh pemerintahan Hindia-Belanda sebagai penguasa tunggal terhadap imperium kolonial terbesarnya di Asia -Tenggara.

Namun tekanan ini menimbulkan motivasi tersendiri bagi masyarakat Manado dan Minahasa mempertahankan eksistensi keberadaannya dengan pengembangan diplomasi seperti yang dilakukan para Walak Manado dan Minahasa dalam cara menghadapi kolonialisme Barat.

Terlepas dari penderitaan yang dialami Manado dan Minahasa dari penjajahan baik Spanyol maupun Portugis, namun hikmah dari kolonialisme Eropa hingga Manado dan Minahasa mengenal pengetahuan westernisasi. Pengetahuan ini dijadikan sebagai senjata penangkal terhadap penetrasi kolonialisme Barat dengan menggunakan pengetahuan Barat. 



Sumber: manadonetwork.com

RIWAYAT KEHIDUPAN DARI PADA WURI MUDA (WURIK SOMBOR)


Pada waktu kedatangan bangsa Portugis di tanah Minahasa di zaman dahulu, maka ayah dari pada Wurik Muda ini yang asli berkebangsaan Portugis datang dan bertemu dengan ibunya Wurik pada suatu wilayah kampung tua yang namanya sekarang Kinilow. Ketika bertemu akhirnya kedua saling jatuh cinta dan akhirnya menikah. Dari pernikahannya ini kemudian mendapatkan anak yang diberi nama dalam bahasa Portugis. Ketika wurik muda sudah mulai remaja maka ayahnya mengajak berlayar ikut kapal Portugis menjelajahi dunia. Dari perjalanan inilah akhirnya Wurik muda mendapatkan ilmu beberapa bahasa Negara-negara yang sempat dikunjunginya selain bahasa-bahasa yang sudah diajarkan ayahnya. Dan memang seorang wurik muda cukup pinter dan lihai dalam pergaulan di kalangannya, juga seorang yang gagah dan tampan seperti ayahnya yang berkebangsaan portugis.
Setelah sekian lamanya merantau ke beberapa negara yang disinggahi kapal portugis yang ditumpanginya, Wurik Muda semakin dewasa dan akhirnya suatu waktu Wurik Muda pulang dan kembali ke kampung halamannya yang sekarang namanya Kinilow dimana ibunya tinggal dan sebagai tempat asal lahirnya. Ketika Wurik Muda pulang dan sampai di kampung ibunya sudah menikah dengan seorang yang cukup disegani dikampung ini, karena ibumnya adalah seorang yang cukup cantik di kampung, maka disuntinglah ibunya dari Wurik muda ini oleh seorang ketua di kampung ini dan cukup disegani karena ilmunya yang tinggi. Orang ini atau Ayah tiri dari Wurik muda bernaman Wurik Tua. Dari kehebatan ilmu yang dipegang dari pada Wurik Tua sehingga sangat disegani dikampungnya waktu itu. Nama “Wurik” diambil dari nama Ayah tirinya yang bernama “Wurik”, jadi Wurik Tua untuk ayah tirinya, sedangkan Wurik Muda untuk anaknya, yang dulunya Wurik muda diberi nama dalam bahasa Portugis. Di masa semakin dewasa wurik muda termasuk orang yang suka bergaul dikampung bahkan sampai keluar kampung, apalagi ketampanannya dan pinter berbahasa asing dari beberapa negara, maka dari itulah seorang wurik muda banyak dilirik oleh wanita-wanita cantik baik dikampungnya maupun di luar kampung.
Selain itu seorang Wurik Muda pinter berhitung dan juga ilmu dari ayah tirinya diturunkan kepadanya sehingga semakin dewasa Wurik Muda sering berganti-ganti wanita atau gadis-gadis cantik apabila dia menginginkannya. Jadi kehidupannya sukanya berkelana dari satu kampung ke kampung lain dimana bilamana dia inginkan, sampai-sampai di seluruh kampung yang dikunjunginya banyak orang mengenalnya dan cukup disegani apalagi ayahnya dikenal orang yang cukup berilmu, maka dari itulah Wurik muda terkenal dimana-mana apalagi dikalangan wanita atau gadis-gadis cantik. Keunggulan-keunggulan dari pada wurik Muda atau dalam bahasa Tombulu (Wurik Sombor) inilah selain tampan bertubuh tinggi besar, pinter berbahasa dari beberapa negara maupun suku-suku di Indonesia serta mempunyai ilmu yang diturunkan padanya dari ayah tirinya berupa pegangan yang bisa menghilangkan dirinya, kebal barang tajam, pinter berjudi dan pinter mengait para wanita/gadis muda serta pinter bela diri. Itulah yang namanya seorang Wurik Muda (Wurik Sombor) di zaman kehidupannya waktu itu. Namun perilaku dari pada Wurik Muda semakin lama dinilai orang tuanya sudah melebihi batas-batas norma maka orang tuanya melarangnya berbuat demikian atas perilakunya tersebut. Tetapi karena Wurik Muda tetap saja tidak mau dinasehati akhirnya hubungan antara ayah dan anak mulai renggang dan sering kali keduanya berbeda pendapat. Akhirnya kedua-duanya tidak bisa saling bertemu dan bila bertemu maka perselisihan akan terjadi. Akhirnya Wurik Muda selalu mengalah dan pergi apabila bertemu dengan ayahnya Wurik Tua.
Demikian pula para teman-teman maupun saudara-saudara dari Wurik Tua setelah mengetahui perilaku dari Wurik Muda maka mereka tidak menerimanya juga.  Sebelumnya mereka sangat menyayangi Wurik Muda. Akhirnya Wurik muda berkelana sampai ke luar negeri ini dalam kurun waktu yang cukup lama karena bisa dan mahir berbahasa asing dan beliau cukup terkenal juga dimana dia mengunjungi tempat-tempat atau negara-negara maupun daerah-daerah yang ada di Indonesia ini terutama dipulau Jawa. Seorang Wurik muda biasanya berpakaian ala Portugis dengan khasnya dengan pakaian yang banyak kancingnya, bertopi orang Portugis/ pelaut dan bersepatu portugis pula dengan sebuah pedang disamping kirinya selalu selama bepergian. Hal ini merupakan kebiasaannya sejak ayahnya yang berkebangsaan Portugis  waktu masih bersama-sama dengannya sampai dewasanya yang berkepribadian sama halnya orang Portugis. Seorang Wurik muda karena pergaulannya sehingga banyak temannya sewaktu dia hidup baik di wilayah Kinilow waktu itu maupun Kinaskas atau kakaskasen dan sekitarnya bahkan dimana dia datangi di wilayah atau tanah Minahasa ini bahkan sampai ke luar negeri pada masa kehidupannya.
Maka dari itu Wurik muda dimana-mana mempunyai anak buahnya beserta ajudannya sewaktu dia sudah dewasa dan dari pengawal-pengawalnya sudah dibekali dengan ilmu kesaktian daripadanya pula. Dizaman sekarang yakni antara kampung Kinilow dan Kakaskasen pada perbatasan dari kedua kampung ini kita bisa jumpai sebuah pohon damar yang besar dan rindang, kononnya menurut cerita di tempat ini merupakan tempat pertapaannya diwaktu itu, dan hingga sekarang masih ada beberapa Tua-tua atau para Tonaas di wilayah kedua perkampungan ini sering mengadakan ritual-ritual budaya untuk penghormatan dan maksud tujuan-tujuan tertentu. Sebetulnya ilmu kesaktian dari pada si Wurik Muda (wurik Sombor) ini cukup terkenal dikalangan masyarakat pada waktu itu seperti jaga diri (pahpakean /pakaian), pencarian/rejeki, cari jodoh dan sebagainya sampai pada penciptaan uang dan pengambilan benda-benda berupa pusaka dan sejenisnya. Namun terkadang si Wurik Sombor sendiri memberi contoh yang tidak terpuji dihadapan orang-orang pada waktu itu dan justru dari pada inilah beliau sering ditantang dari pada pemuka adat baik dikampunyg maupun di luar kampung dimana dia berada, apalagi ayahnya tirinya sendiri tadi yakni si Wurik Tua. Jadi para leluhur di zaman itu sangat betentangan dengan perilaku dari pada wurik muda atas perilakunya yang terkadang sudah melewati batas norma-norma yang ada, padahal diantara para leluhur banyak yang segani kepiawaiannya, atas ilmu kesaktian yang didapatkan dari sang ayahnya, namun halnya dari kepiawaiannya inilah akhirnya menjadi kerenggangan dan keretakan hubungan baik dari pada teman-temannya sendiri, petua-petua dikampung bahkan ayahnya sendiripula. Selama perjalanan si wurik sombor ini dimasa hidupnya di beberapa wilayah yang ada di Minahasa beliau banyak menurunkan ilmu kepada orang-orang yang dijumpai dan sudah merupakan pengikutnya, tapi ilmu yang diturunkannya hanya sebagian kecil dari padanya
Sebenarnya seorang Wurik Muda adalah penurut dan sangat menghormati orang tuanya dan para tetua-tetua dikampungnya  dan bahkan karena rajinnya beliau maka sering setiap ada permasalahan di kampung para tetua-tetua atau leluhur-leluhur yang lebih tua dari padanya waktu itu selalu memerintahkan padanya untuk diselesaikannya baik masalah adat dan sebagainya. Kepercayaan dari tetua-tetua ini dikarenakan ilmu yang ada padanya dinilai sangat sakti dan lebih tinggi dari pada mereka sendiri, maka dari itulah dimana beliau mengunjungi suatu wilayah beliau sangat disegani dan dihormati orang-orang di kampung itu, dan akhirnya lama kelamaan si Wurik Muda banyak pula yang tidak menerima atas perilakunya yang dinilai sudah tidak wajar lagi dengan norma-norma adat. Jadi itulah kehidupan seorang Wurik Muda (Wurik sombor) yang cukup dikenal dikalangan masyarakat di zamannya waktu itu.
Di wilayah Nawanua Kinaskas atau Kampung Baru Kakaskasen Tiga sekarang tidak jauh dari pekuburan para leluhur (waruga) ke arah Timur + 500 meter terdapat suatu batu berbentuk kepala Manguni yang kononnya merupakan tempat persinggahan dan peristirahatan dari si Wurik Sombor sewaktu beliau mengadakan perjalanan ke beberapa wilayah di Minahasa. Juga menurut cerita selain dari pada Pohon damar yang besar yang terdapat di kebun salugan yang merupakan batas kedua kampung yakni Kinilow dan Kakaskasen sekarang adalah tempat persinggahan dan pertapaan beliau bergitu juga halnya di tempat yang sudah disebut di atas yakni di batu kepala manguni sama halnya demikian. Batu yang berbentuk kepala manguni terletak tidak jauh dari 3 batu saling menghadap (watu Pahsaruan) yang berlokasi sekarang bernama kebun Sarang, termasuk kompleks perkampungan baru Kinaskas atau sekarang Kakaskasen Tiga. Di tempat inilah sampai sekarang masih banyak para tua-tua di kampung atau para Tonaas sering mengadakan Ritual adat untuk menghormatinya selain maksud tujuan-tujuan tertentu pula. Dan tidak jauh dari tempat ini yang hanya kira-kira 500 meter ke arah Barat terdapat kuburan (Waruga) dari pada si Wurik Muda (Wurik Sombor) ini.

Sumber: charlieboysamola.wordpress